Bandara Halu Oleo Kembali ke Jati Diri: Bahasa Tolaki Resmi Hadir dalam Pengumuman Penerbangan
KENDARI, Celebesnesia — Sebuah tonggak penting dalam upaya pelestarian budaya Sulawesi Tenggara resmi dimulai. Terhitung sejak 1 Agustus 2026, Bandara Halu Oleo Kendari mulai menghadirkan Bahasa Tolaki sebagai bagian dari pengumuman penerbangan, berdampingan dengan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Kebijakan ini menandai satu langkah penting bagi eksistensi Bahasa Tolaki. Bukan lagi hanya terdengar di lingkungan keluarga, kampung, maupun upacara adat, tetapi kini hadir di salah satu ruang publik paling strategis sebagai gerbang utama transportasi udara di Sulawesi Tenggara.
Langkah tersebut bukan sekadar penambahan bahasa dalam sistem pengumuman penerbangan. Lebih dari itu, kebijakan ini menjadi simbol bahwa identitas budaya lokal memiliki tempat yang layak di ruang-ruang modern. Adat tidak harus tertinggal oleh perkembangan zaman, melainkan dapat berjalan beriringan dengan kemajuan.
Kesepakatan tersebut lahir dari pertemuan silaturahmi antara Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Adat Tolaki (DPP LAT) dan pihak Bandara Halu Oleo Kendari, yang menghasilkan enam langkah konkret dalam memperkuat identitas budaya Tolaki di kawasan bandara.
Enam poin tersebut meliputi penerapan pengumuman penerbangan dalam tiga bahasa, yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Tolaki; pembentukan mekanisme pengawasan implementasi; penyediaan etalase kain Hinoru Ndolaki bermotif Pinetapuoho; pemasangan prototipe Rumah Adat Laika Aha di area terminal kedatangan; penayangan falsafah Kalosara melalui media informasi bandara; hingga komitmen menghadirkan identitas Tolaki sebagai bagian dari branding kawasan bandara sebagai "Rumah Adat di Pintu Langit".
Sekretaris Umum Lembaga Adat Tolaki, Dr. Basrin Melamba, MA, menegaskan bahwa bandara merupakan wajah pertama sebuah daerah. Menurutnya, ketika tamu dari berbagai daerah maupun mancanegara pertama kali menginjakkan kaki di Sulawesi Tenggara dan mendengar sapaan dalam Bahasa Tolaki, melihat motif budaya lokal, serta mengenal simbol-simbol adat yang ditampilkan di kawasan bandara, mereka akan memahami bahwa daerah ini memiliki peradaban, sejarah, dan identitas budaya yang tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Hadirnya Bahasa Tolaki di Bandara Halu Oleo menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui seremoni adat, tetapi juga melalui kebijakan yang menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat. Penggunaan bahasa daerah di ruang publik strategis merupakan bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus penguatan identitas daerah di tengah arus globalisasi.
Momentum ini diharapkan menjadi awal lahirnya lebih banyak ruang bagi Bahasa Tolaki di berbagai sektor, mulai dari dunia pendidikan, pelayanan publik, media massa, hingga ekosistem digital. Sebab, budaya tidak akan tetap hidup hanya dengan dikenang, melainkan melalui penggunaan, pewarisan, dan penguatan perannya dalam kehidupan masyarakat.
Dengan dimulainya penggunaan Bahasa Tolaki di Bandara Halu Oleo, Sulawesi Tenggara menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan modernisasi. Bandara bukan lagi sekadar pintu masuk sebuah daerah, tetapi juga menjadi ruang pertama yang memperkenalkan identitas, bahasa, dan peradaban masyarakat Tolaki kepada setiap orang yang datang menginjakkan kaki di Bumi Anoa.